Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI bersama Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menyerukan penguatan dakwah ekologis oleh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam sebagai respons atas bencana banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak menilai musibah banjir tersebut harus menjadi momentum refleksi nasional terkait kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Menurutnya, keterlibatan ormas-ormas Islam sangat penting dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat.
“Harus ada koreksi dari kita semua. Komitmen merawat alam, hutan, dan sungai perlu diperkuat. Ormas keagamaan Islam seperti LDII, Muhammadiyah, dan NU memiliki peran strategis membangun kesadaran jamaah,” ujar Dahnil.
Seiring dengan kondisi darurat tersebut, Kemenhaj RI juga memberikan kebijakan khusus berupa penundaan seleksi petugas haji serta relaksasi pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) bagi calon jemaah dari wilayah terdampak banjir.
“Pendaftaran petugas ditunda sementara, khusus untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kami ingin memberikan ruang persiapan yang lebih matang bagi daerah-daerah terdampak,” kata Dahnil.
Pelunasan BPIH yang semula dijadwalkan berakhir pada 23 Desember 2025 diperpanjang khusus bagi jemaah dari wilayah yang terdampak bencana.
Kebijakan tersebut, menurut Dahnil, merupakan bentuk kepedulian pemerintah agar tidak ada jemaah yang kehilangan kesempatan berangkat ke Tanah Suci akibat situasi di luar kendali mereka.
Dahnil juga menyampaikan kepedulian personal terhadap wilayah terdampak banjir, mengingat Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah merupakan kampung halamannya.
Bersama relawan Matahari Pagi Indonesia, ia turun langsung menyalurkan bantuan kepada warga terdampak.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DPP LDII yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Sudarsono, menegaskan pentingnya dakwah ekologis digencarkan di tengah meningkatnya kerusakan lingkungan.
Ia menyebut sekitar 12,7 juta hektare lahan kritis di Indonesia membutuhkan upaya pemulihan serius.
“Kondisi ini semakin nyata ketika banjir dan longsor melanda berbagai wilayah seperti Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat,” ujarnya.
Sudarsono mengingatkan bahwa menanam pohon merupakan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan kehidupan. Pohon berperan menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menjaga siklus air, serta mencegah longsor dan banjir.
“Jika hari ini kita tidak menanam pohon, maka kita sedang menanam krisis yang akan dipanen di masa depan,” tegas pakar bioteknologi tanaman tersebut.
Ia menambahkan, dalam ajaran Islam menanam pohon merupakan bentuk sedekah. Hal inilah yang mendorong LDII menjalankan program Go Green sejak 2007 dengan menanam jutaan pohon di berbagai wilayah Indonesia.
Komitmen LDII dalam dakwah ekologis diwujudkan melalui edukasi di pondok pesantren dan sekolah di bawah naungannya, serta penggerakan instrumen organisasi dari tingkat pusat hingga kelurahan. Salah satu fokus kegiatan berada di Bumi Perkemahan Cinta Alam Indonesia, Wonosalam, Jombang, Jawa Timur, sebagai pusat edukasi dan pembinaan karakter cinta lingkungan bagi generasi muda.
LDII juga menekankan pentingnya kolaborasi multipihak antara pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat dalam rehabilitasi lahan kritis. Strategi tersebut mencakup pemilihan jenis pohon yang sesuai, perawatan pascatanam, serta pengembangan insentif ekonomi hijau seperti perdagangan karbon dan ekowisata.
“Menanam pohon adalah tindakan sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Pohon yang ditanam hari ini akan menjadi penopang kehidupan bagi generasi mendatang,” pungkas Sudarsono.***








