RANCAEKEK – Festival Anak Sholih (FAS) yang digelar Pimpinan Cabang (PC) LDII Rancaekek bersama Yayasan Bina Umat Awwabin tidak sekadar menjadi ajang perlombaan anak.
Kegiatan tersebut dipadukan dengan evaluasi pembelajaran keagamaan sekaligus latihan kemandirian bagi generasi penerus.
Kegiatan yang berlangsung di Majelis/GSG di lingkungan PC LDII Rancaekek, Sabtu malam hingga Minggu (15–16/8/2026), diikuti 53 peserta caberawit atau anak usia sekolah dasar.
Mengusung konsep semi-camping bernuansa HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kegiatan mendapat pendampingan dari panitia dan lima dewan guru.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan seni kreatif anak-anak yang dipandu Ahmad Fauzan yang juga atlit PERSINAS ASAD Rancaekek.
Selanjutnya, peserta mengikuti sejumlah kegiatan yang dirancang untuk melihat perkembangan kemampuan keagamaan sekaligus membangun karakter.
Ketua Penasehat PC LDII Rancaekek, Drs. H. Wahyudin, menekankan pentingnya pembinaan generasi sejak usia dini.
Menurutnya, anak-anak perlu terus diarahkan agar tumbuh menjadi generasi penerus yang profesional religius.

“Penting menumbuhkan kesadaran sejak dini agar anak-anak terus bersemangat menjadi generasi penerus yang profesional religius,” ujar Wahyudin dalam sambutannya.
Konsep pembinaan tersebut diarahkan pada tiga karakter utama generasi penerus, yakni alim-faqih, berakhlakul karimah, dan mandiri.
Menjadi Sarana Evaluasi Pembelajaran
Pada sesi malam, peserta mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan yang telah dipelajari selama satu tahun atau satu semester terakhir.
Evaluasi dikemas dalam bentuk unjuk bakat sehingga anak-anak dapat tampil sekaligus belajar percaya diri.
Sejumlah kemampuan yang ditampilkan meliputi adzan dan iqomah, hafalan Al-Qur’an, doa-doa harian, pidato atau penyampaian nasihat agama, hingga teater.
Peserta juga menampilkan simulasi 29 karakter luhur.
Materi tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pembelajaran keagamaan dengan pembentukan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, FAS tidak hanya mengukur kemampuan anak dalam menghafal materi keagamaan, tetapi juga memberi ruang untuk melihat keberanian tampil, kemampuan berkomunikasi, serta pemahaman terhadap nilai-nilai karakter yang telah dipelajari.
Semi-Camping Melatih Kemandirian
Setelah rangkaian unjuk bakat, kegiatan dilanjutkan dengan pengalaman semi-camping.
Anak-anak menginap di lokasi dengan perlengkapan yang telah disiapkan secara sederhana.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari latihan kemandirian dan ketahanan mental.
Anak-anak belajar mengatur kebutuhan mereka selama mengikuti kegiatan, beradaptasi dengan lingkungan, serta mengikuti rangkaian aktivitas hingga waktu Subuh.
Usai bangun pada waktu Subuh, peserta kembali diarahkan untuk menderes, yakni mengulang hafalan yang telah dipelajari.
Aktivitas tersebut sekaligus menjadi penguatan pembiasaan agar proses belajar tetap berlangsung meskipun dalam suasana kegiatan luar kelas.
Kebersamaan dan Apresiasi
Memasuki Minggu pagi, peserta mengikuti senam sehat dan gembira sebelum sarapan bersama.
Setelah itu, anak-anak dibagi dalam kelompok untuk mengikuti berbagai lomba kebersamaan.
Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk membangun kerja sama, berinteraksi dengan teman, sekaligus menikmati suasana belajar yang lebih menyenangkan.
Rangkaian FAS ditutup sekitar pukul 11.00 WIB dengan pembagian sertifikat dan hadiah kepada seluruh peserta.
Apresiasi tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi dan keberanian anak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Melalui perpaduan evaluasi pembelajaran, pembentukan karakter, latihan kemandirian, dan kegiatan kebersamaan, FAS PC LDII Rancaekek diharapkan dapat mendorong anak-anak semakin bersemangat mengikuti pembelajaran keagamaan.




Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pembinaan generasi penerus agar tumbuh menjadi pribadi yang alim-faqih, berakhlakul karimah, dan mandiri.***








