Mengutip pemberitaan dari official website Diskominfo tentang PERMATA CAI 2026 di Wonosalam Jombang Jawa Timur, acara dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka.
Regenerasi dinilai tidak bisa dibangun secara instan. Karena itu, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menerapkan sistem pembinaan berjenjang bagi generasi penerus mulai dari usia dini hingga lanjut usia guna menjaga kesinambungan transfer ilmu, nilai, serta kepemimpinan antargenerasi.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, saat menghadiri Perkemahan Akhir Tahun Ajaran Cinta Alam Indonesia (Permata CAI) ke-47 Tahun 2026 di Bumi Perkemahan Kosambiwojo, Wonosalam, Jombang, Senin (29/6/2026).
Kegiatan yang digelar Pondok Pesantren Gadingmangu itu dibuka langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan turut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta para tokoh pesantren.
Menurut Amrodji, sistem pembinaan di lingkungan LDII dilakukan secara bertahap sesuai fase perkembangan peserta, dimulai dari kelompok anak-anak, praremaja, remaja, usia pernikahan, dewasa, hingga lanjut usia.
“Yang kita bangun adalah kesinambungan. Generasi yang lebih tua harus mentransformasikan ilmu dan pengalamannya kepada generasi berikutnya agar estafet pembinaan tidak terputus,” ujarnya.
Ia menjelaskan fase pembinaan remaja menjadi salah satu tahapan paling penting karena pada masa tersebut mulai terbentuk karakter, pola pikir, hingga jiwa kepemimpinan seseorang.
Karena itu, pembinaan tidak hanya dilakukan di lingkungan masjid masing-masing, tetapi juga melalui kolaborasi antarpembina dan antarmasjid dalam satu wilayah agar generasi muda memiliki ruang interaksi yang lebih luas sekaligus memperkaya pengalaman sosial.
Dalam menyiapkan kader masa depan, LDII memfokuskan pembinaan pada tiga aspek utama, yakni penguatan ilmu agama, penguasaan ilmu pengetahuan umum atau keduniaan, serta pembentukan karakter luhur.
“Ilmu agama menjadi fondasi kehidupan beragama, ilmu keduniaan membekali generasi muda agar mandiri, sedangkan karakter menjadi modal penting dalam berinteraksi dan memimpin di tengah masyarakat,” kata Amrodji.
Ia menambahkan pendidikan karakter di lingkungan LDII diwujudkan melalui penerapan 29 karakter luhur yang ditanamkan secara bertahap sesuai jenjang pembinaan.
Melalui sistem tersebut, LDII berharap dapat melahirkan generasi yang memiliki pemahaman agama yang baik, kompetensi sesuai bidang masing-masing, serta karakter kuat sehingga mampu melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi sekaligus berkontribusi bagi masyarakat luas.
Amrodji juga mengapresiasi konsistensi Pondok Pesantren Gadingmangu dalam menyelenggarakan Permata CAI sebagai wadah pembinaan generasi muda.
Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan pola kaderisasi LDII karena tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, kemandirian, dan semangat kebangsaan.
Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 generasi muda itu diisi berbagai materi pembinaan, mulai dari wawasan kebangsaan, pendidikan karakter, kepemimpinan, kerja sama tim (team building), kedisiplinan, hingga aktivitas yang menumbuhkan kepedulian sosial dan kecintaan terhadap lingkungan.
Melalui pembinaan tersebut, peserta diharapkan memiliki karakter kuat, jiwa kepemimpinan, serta kesiapan untuk berkontribusi bagi bangsa menuju generasi Indonesia yang unggul di masa depan.






