Jakarta Selatan — Akademisi Universitas PTIQ Jakarta sekaligus cendekiawan Nahdlatul Ulama, Ahmad Ali, meluncurkan buku berjudul Sistem, Model, dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius, dari Sabang sampai Merauke.
Peluncuran dan bedah buku tersebut digelar di Sinabung Eight pada Selasa (10/3/2026).
Buku ini mengulas sistem pendidikan yang diterapkan oleh LDII di berbagai wilayah Indonesia, termasuk bagaimana nilai-nilai moral dan kebajikan ditanamkan secara konsisten dalam pembinaan warga.
Menurut Ahmad Ali, penelitian tersebut berangkat dari rasa ingin tahunya terhadap berbagai dinamika dan persepsi negatif tentang LDII yang ia dengar sejak awal 2000-an.
Hal itu mendorongnya melakukan riset langsung untuk memahami praktik keagamaan dan sistem pendidikan yang diterapkan organisasi tersebut.
“Manusia cenderung memusuhi apa yang tidak mereka ketahui. Prasangka negatif sering kali lahir dari ketidaktahuan. Sebagai orang NU yang awalnya tidak mengenal LDII, saya tidak ingin menjadi musuh bagi siapa pun. Saya ingin menjadi kawan dengan cara memahami sistem mereka secara objektif,” ujarnya.
Dalam penelitiannya, Ahmad Ali menemukan bahwa perilaku positif warga LDII tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan secara terstruktur dan seragam di seluruh Indonesia.
Ia mencontohkan penerapan pembinaan karakter yang dimulai dari hal mendasar, seperti pendidikan kebersihan dan kesucian (thaharah), hingga implementasi nilai pembinaan karakter yang dikenal sebagai 29 Karakter Luhur.
“Ternyata rahasia di balik perilaku positif warga LDII yang saya tulis pada buku pertama adalah sistem pendidikan yang diterapkan secara masif dari Sabang sampai Merauke. Mereka memiliki platform yang sama dalam membentuk karakter profesional religius,” jelasnya.
Acara peluncuran buku yang diselenggarakan oleh Deepublish Yogyakarta itu juga menghadirkan sejumlah pakar pendidikan Islam sebagai pembedah untuk memberikan perspektif akademik terhadap karya tersebut.
Salah satunya Guru Besar Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KH Dede Rosyada, yang menilai model pendidikan LDII memiliki relevansi dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
Menurutnya, sistem pendidikan yang dikembangkan LDII tidak hanya menekankan aspek religius, tetapi juga memperkuat keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Dalam buku jilid kedua ini dijelaskan bahwa pendidikan formal yang dikembangkan memiliki orientasi keterampilan sesuai kondisi lokal, sehingga ketika siswa lulus mereka memiliki bekal kemampuan yang dapat digunakan dalam dunia kerja,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan tersebut sejalan dengan semangat kebijakan Merdeka Belajar yang mendorong pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan berijazah, tetapi juga memiliki kompetensi nyata.
“Lebih dari itu, penguatan dimensi agama di LDII tidak hanya menjadi wacana atau teori, tetapi sudah menjadi kultur dan kebiasaan. Agama lahir melalui pembiasaan, dan LDII berhasil membangun budaya tersebut,” tuturnya.
Diskusi akademik tersebut juga menghadirkan akademisi Universitas PTIQ Jakarta, Nur Afif dan Made Saihu, yang turut mengulas indikator implementasi konsep “Profesional Religius” dalam sistem pendidikan LDII.

Melalui peluncuran dan bedah buku ini, para akademisi berharap kajian mengenai sistem pendidikan dan nilai kebajikan di lingkungan LDII dapat menjadi referensi akademik sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai praktik pendidikan keagamaan di Indonesia.***









