Tanah Laut, Kalimantan Selatan – Usaha peternakan ruminansia seperti kambing dan sapi memiliki prospek besar untuk dikembangkan di wilayah perdesaan.
Desa Martadah Baru menjadi salah satu desa yang mulai memanfaatkan potensi lokal untuk mengatasi kendala pakan ternak yang sering dialami para peternak.
Ketua DPD LDII Tanah Laut (Tala), Anton Kuswoyo, mengungkapkan bahwa desa memiliki potensi sumber pakan melimpah. Namun, tantangan seperti menyempitnya lahan dan kondisi cuaca, baik saat musim hujan maupun kemarau, sering kali membuat peternak kesulitan mencari pakan hijauan.
“Untuk mengatasi kendala ini, peternak perlu menguasai keterampilan membuat pakan fermentasi dari bahan hijauan lokal dan limbah bungkil kelapa sawit,” ujarnya dalam pelatihan yang digelar pada Jumat (13/12).
Anton menjelaskan, pakan fermentasi memiliki banyak keunggulan. Selain dapat disimpan hingga satu tahun, pakan ini juga memiliki nilai nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan rumput liar.
Penambahan bahan seperti bungkil inti sawit dan tanaman indigofera dapat meningkatkan kandungan protein, lemak, dan energi yang dibutuhkan hewan ternak.
“Bungkil inti sawit mengandung protein kasar hingga 20,03 persen dan energi metabolis sebesar 2682 Kkal/kg. Ini sangat cocok untuk pakan ternak ruminansia,” tambahnya.
Lebih lanjut, Anton memaparkan bahwa produksi pakan fermentasi secara mandiri akan memudahkan peternak karena mereka tidak perlu mencari rumput setiap hari.
“Dengan cara ini, peternak bisa lebih fokus mengelola ternaknya, bahkan meningkatkan keuntungan karena hewan lebih sehat dan cepat gemuk,” jelasnya.
Desa Martadah Baru Dorong Peternak Manfaatkan Pakan Fermentasi untuk Tingkatkan Produktivitas
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kepala Desa Martadah Baru, Slamet Prayitno, dan diikuti oleh puluhan peternak lokal. Slamet berkomitmen mendukung keberlanjutan inovasi ini dengan mengupayakan bantuan alat seperti mesin chopper untuk mempercepat produksi pakan fermentasi.
“Kami akan bekerja sama dengan DPRD Kabupaten Tala untuk mengusahakan alat tersebut. Yang penting, peternak benar-benar mau menerapkan ilmu dari pelatihan ini,” tegas Slamet.
Yoga, salah satu peserta pelatihan, mengaku antusias dengan program ini. Ia yang saat ini memiliki belasan kambing akan segera mempraktikkan pembuatan pakan fermentasi.
“Alhamdulillah, kami mendapat pengetahuan baru. Ternyata bungkil inti sawit sangat bermanfaat untuk campuran pakan ternak,” ungkapnya.
Dengan adanya pelatihan dan dukungan dari pemerintah desa, diharapkan para peternak di Desa Martadah Baru dapat lebih maju dan meningkatkan kesejahteraan melalui inovasi pakan ternak fermentasi.








