Kabupaten Bandung — Dua warga LDII Kabupaten Bandung, H. Yusliman Nurdien (Kang Iman) dan H. Cipto Fidianto, dinyatakan lolos sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi musim haji 2026.
Keduanya merupakan warga LDII asal Cileunyi dan Margaasih yang akan bertugas mendampingi jamaah haji Indonesia di Tanah Suci.
Penetapan tersebut merupakan bagian dari proses seleksi rutin yang diselenggarakan setiap menjelang musim haji, baik di tingkat daerah maupun pusat.
Untuk musim haji 2026, tahapan seleksi telah dimulai sejak awal Desember 2025 melalui pemberkasan dokumen, dilanjutkan tes dan wawancara di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada pertengahan Desember.
Hasil seleksi diumumkan dua hari setelah rangkaian tes selesai.
Keduanya mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) yang berlangsung pada 11–30 Januari 2026 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, para PPIH Arab Saudi asal Jawa Barat juga menghadiri penutupan Diklat PPIH Kloter dan Petugas Haji Daerah (PHD) se-Jawa Barat yang digelar dan dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat di Indramayu.
Saat ini (17/2/2026), para petugas tinggal menunggu jadwal pemberangkatan ke Arab Saudi yang direncanakan sekitar pertengahan April 2026.

Petugas haji dijadwalkan berangkat lebih awal dibanding jamaah haji dan kembali paling akhir setelah seluruh jamaah selesai menunaikan rangkaian ibadah.
Dalam mekanismenya, seluruh biaya operasional petugas haji bersumber dari APBN murni dan tidak diambil dari biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) jamaah.

Keikutsertaan H. Yusliman Nurdien dan H. Cipto Fidianto sebagai PPIH Arab Saudi 2026 tidak hanya menjadi amanah pribadi, tetapi juga mencerminkan prinsip 3K yang terus digaungkan dalam pembinaan warga LDII, yakni Karya, Kontribusi, dan Komunikasi.
Dari sisi karya, keduanya menunjukkan kapasitas dan kompetensi melalui proses seleksi yang ketat, mulai dari administrasi, tes kemampuan, hingga wawancara dan pendidikan pelatihan. Lolos sebagai petugas haji merupakan hasil dedikasi dan profesionalisme yang teruji.
Dalam aspek kontribusi, peran sebagai PPIH menjadi bentuk pengabdian nyata kepada umat dan negara. Mereka akan berada di garda terdepan dalam memastikan jamaah haji Indonesia memperoleh pelayanan optimal selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Sementara itu, dari sisi komunikasi, tugas petugas haji menuntut kemampuan koordinasi lintas sektor, mulai dari jamaah, sesama petugas, hingga otoritas setempat. Peran ini menegaskan pentingnya membangun komunikasi yang efektif, santun, dan solutif dalam melayani masyarakat.
Dengan semangat 3K tersebut, kiprah dua warga LDII Kabupaten Bandung ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya, berkontribusi, dan membangun komunikasi yang membawa manfaat luas bagi umat dan bangsa.***








