Kabupaten Bandung — DPD LDII Kabupaten Bandung menggelar Pelatihan Jurnalistik Dasar bagi pemuda perwakilan PC dan PAC se-Kabupaten Bandung, Minggu (15/2/2026), di Gedung Sekretariat DPD LDII Kabupaten Bandung.
Kegiatan ini difokuskan untuk memperkuat kemampuan kader dalam memproduksi informasi yang akurat, edukatif, dan mampu menangkal hoaks di ruang digital.
Pelatihan berlangsung pukul 08.30 hingga 14.00 WIB, dengan peserta satu orang utusan dari masing-masing PC dan PAC yang aktif dalam kegiatan organisasi. Pendaftaran dibuka hingga 13 Februari 2026 pukul 15.00 WIB.
Ketua DPD LDII Kabupaten Bandung, Didin Suyadi, menegaskan bahwa kader di tingkat PC dan PAC harus memiliki kemandirian dalam publikasi kegiatan.
“PC dan PAC harus terus memiliki semangat dalam mempublikasikan berita dari tempatnya masing-masing,” ujarnya.
Penguatan Teknik Menulis dan Strategi Digital
Narasumber Ade Truna membekali peserta dengan materi teknik penulisan berita, prinsip dasar peliputan, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana publikasi.
Penekanan diberikan pada pentingnya verifikasi data, ketepatan sudut pandang, dan penyusunan berita sesuai kaidah jurnalistik.
Sementara itu, Aris Rusdi Bagas Setyo menyampaikan materi bertajuk “Muda & Melek Strategi Dakwah Kalcer di Era Digital”.
Ia mengajak generasi muda memahami pola komunikasi digital, membaca tren media sosial, serta menyampaikan dakwah melalui pendekatan kreatif yang relevan dengan budaya generasi saat ini.
Menurutnya, dakwah tidak lagi terbatas pada forum tatap muka, melainkan dapat dikemas melalui konten informatif dan menarik yang tersebar di berbagai platform digital.
Bangun Literasi, Jaga Marwah Organisasi
Pelatihan ini menjadi bagian dari peningkatan kapasitas pengurus LDII di semua tingkatan, khususnya dalam bidang jurnalistik dan pengelolaan media sosial.
Diharapkan, para peserta mampu menghasilkan karya jurnalistik yang informatif dan bertanggung jawab, sekaligus berkontribusi menciptakan ruang informasi yang sehat di tengah masyarakat.
Dengan pendekatan terstruktur dan berbasis kebutuhan organisasi, kegiatan ini menegaskan bahwa melawan hoaks dapat dimulai dari literasi dan pena kader sendiri.***








