Hari Tani Nasional 2026, Menjaga Air untuk Menjaga Masa Depan Petani

TIKTOK LDII

ldiikabbandung.or.id— Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September kembali mengingatkan pentingnya keberadaan petani dalam menjaga ketersediaan pangan.

Namun, di tengah tantangan perubahan cuaca dan kebutuhan produksi yang terus berjalan, keberlanjutan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan petani mengolah lahan.

Ketersediaan air, kondisi jaringan irigasi, sarana produksi, teknologi hingga akses pasar turut menentukan apakah kegiatan pertanian dapat terus berlangsung sekaligus memberikan nilai ekonomi yang layak bagi petani.

Persoalan air menjadi salah satu perhatian di Jawa Barat menjelang musim tanam 2026/2027. Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Jawa Barat melalui Komisi Irigasi Jawa Barat pada 22 September 2026 membahas Rencana Tata Tanam Global (RTTG) dan Rencana Pemberian Air (RPA) sebagai bagian dari persiapan menghadapi musim tanam.

Forum tersebut melibatkan pemerintah pusat dan daerah, pengelola irigasi, petani pemakai air serta pemangku kepentingan terkait. Pembahasannya mencakup kondisi jaringan irigasi, keandalan sumber air, potensi sumber air lainnya hingga prakiraan hujan dari BMKG.

Kepala DSDA Jawa Barat sekaligus Ketua Harian Komisi Irigasi Jawa Barat Dikky Achmad Sidik mengatakan penyusunan pola tanam perlu mempertimbangkan kondisi jaringan dan ketersediaan air.

Dukungan pembiayaan untuk rehabilitasi jaringan irigasi juga diperlukan dari jaringan utama hingga jaringan tersier agar distribusi air dapat mendukung kegiatan pertanian.

Persiapan tersebut menunjukkan bahwa air bagi petani bukan sekadar persoalan ketika musim kemarau tiba. Ketersediaannya perlu direncanakan sejak awal agar pola tanam dapat disesuaikan dengan kondisi sumber daya air.

Pandangan serupa muncul dalam gagasan yang disampaikan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengenai ketahanan air.

Pada 21 September 2026, Ketua LDII DIY sekaligus dosen Fakultas Kehutanan UGM, Atus Syahbudin, memperkenalkan gagasan Kiai Water.

Gagasan tersebut menekankan pentingnya mengubah pendekatan dari sekadar menyalurkan bantuan air ketika kekeringan terjadi menjadi upaya membangun ketahanan air sejak sebelum krisis.

Konservasi, pemanenan air hujan dan penyediaan cadangan air menjadi bagian dari pendekatan yang ditawarkan.

Atus juga melihat fasilitas komunal seperti masjid, pesantren, sekolah dan kampus dapat mengambil peran dalam upaya konservasi dan penyediaan cadangan air.

Jika dikaitkan dengan pertanian, gagasan tersebut memiliki relevansi yang lebih luas.

Air yang dikelola sejak musim hujan dapat menjadi salah satu penyangga ketika kebutuhan pertanian meningkat atau curah hujan tidak lagi dapat diprediksi secara sederhana.

Upaya menjaga keberlanjutan pertanian juga tidak berhenti pada persoalan air. Petani membutuhkan cara agar hasil produksi memiliki kualitas dan nilai ekonomi yang lebih baik.

Contohnya terlihat di kawasan Kamojang, Kabupaten Bandung. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengembangkan pemanfaatan panas bumi untuk mendukung proses pengeringan kopi yang dihasilkan petani setempat.

Pemanfaatan panas bumi tersebut digunakan sebagai sumber panas alternatif untuk mempercepat proses pengeringan.

PGE menyebut proses yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 45 hari dapat dipersingkat menjadi tiga hingga 10 hari.

Program itu melibatkan tiga kelompok tani dan disebut telah memberdayakan 320 keluarga petani kopi di sekitar Kamojang. PGE juga mencatat produk kopi Kamojang telah dipasarkan ke sejumlah negara di Asia dan Eropa.

Contoh di Kamojang memperlihatkan sisi lain dari tantangan pertanian. Ketahanan petani tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan komoditas, tetapi juga oleh kemampuan mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Pada titik inilah persoalan air, teknologi dan ekonomi petani saling berkaitan. Air yang tersedia mendukung proses produksi, teknologi membantu efisiensi dan menjaga kualitas, sementara akses pasar menentukan seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat diterima petani.

Upaya memperkuat ketahanan pangan melalui kegiatan pertanian juga dilakukan masyarakat di berbagai daerah.

DPD LDII Kabupaten Musi Banyuasin, misalnya, melaporkan kegiatan panen raya jagung sebagai bagian dari program ketahanan pangan dan pemanfaatan potensi ekonomi masyarakat.

Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa membicarakan petani berarti membicarakan ekosistem yang lebih luas.

Ada air yang harus dijaga, irigasi yang perlu dipelihara, lahan yang harus produktif, teknologi yang dapat dimanfaatkan dan pasar yang mampu memberikan penghargaan terhadap hasil kerja petani.

Karena itu, Hari Tani Nasional 2026 tidak hanya menjadi momentum untuk mengingat peran petani sebagai penghasil pangan.

Momentum ini juga relevan untuk melihat kembali bagaimana sumber daya dan inovasi dapat dipadukan agar kegiatan pertanian tetap berjalan di tengah berbagai tantangan.

Di Jawa Barat, persiapan musim tanam melalui pengaturan tata tanam dan pemberian air menjadi salah satu bentuk perencanaan tersebut.

Sementara itu, gagasan ketahanan air dan pemanfaatan teknologi panas bumi memberikan contoh bahwa keberlanjutan pertanian dapat dibangun melalui berbagai pendekatan.

Pada akhirnya, menjaga masa depan pertanian bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak pangan.

Yang tidak kalah penting adalah memastikan petani memiliki air untuk berproduksi, teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan kesempatan memperoleh nilai tambah dari hasil pertaniannya.

Ketua DPD LDII Kabupaten Bandung Drs. H. Didin Suyadi mengatakan, Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk kembali menghargai peran petani sekaligus memperkuat kepedulian terhadap keberlanjutan pertanian.

Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada ketersediaan air, kelestarian lahan, pemanfaatan teknologi, serta keberlanjutan generasi petani.

“Petani memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan. Karena itu, perhatian terhadap pertanian harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari menjaga lingkungan dan sumber air, meningkatkan pengetahuan serta teknologi pertanian, hingga mendorong generasi muda agar melihat pertanian sebagai bidang yang memiliki masa depan,” ujar Didin.

Ia menambahkan, masyarakat juga memiliki peran dalam mendukung petani dengan menghargai hasil pertanian dan ikut menjaga lingkungan.

“Semangat Hari Tani Nasional hendaknya tidak berhenti pada peringatan setiap 24 September, tetapi diwujudkan melalui kepedulian dan kontribusi nyata. Ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dijaga untuk kepentingan masyarakat hari ini dan generasi mendatang,” pungkasnya.***

admin

admin

LINES DPD LDII KABUPATEN BANDUNG — humas LDII dalam pelurusan informasi, penyebaran berita Karya, Kontribusi dan Komunikasi PAC, PC, dan DPD.

Artikel Terkait:

LDII: Muktamar NU ke-35 Momentum Rumuskan Solusi Tantangan Umat dan Bangsa

LDII menyoroti lima tantangan umat dan bangsa menjelang Muktamar NU ke-35, dari polarisasi sosial, AI, ekonomi, pendidikan hingga lingkungan.

Empat Tahun Digelar, Kerja Bakti Nasional LDII Perkuat Gotong Royong dan Nasionalisme

Kerja Bakti Nasional LDII bertajuk “Kerja Bersama, Bakti untuk Negeri” digelar serentak di Indonesia untuk memperkuat gotong royong, nasionalisme, dan kepedulian lingkungan.

Leave a Reply

Artikel Pilihan

Cetak Generasi Berkarakter, PC LDII Margaasih Gelar Evaluasi Generus Kolaborasi 3 Kecamatan

  • 262 views
Cetak Generasi Berkarakter, PC LDII Margaasih Gelar Evaluasi Generus Kolaborasi 3 Kecamatan

Isi Liburan Sekolah, PAC LDII Banyusari Tanamkan 29 Karakter Luhur Lewat Asrama Caberawit

  • 213 views
Isi Liburan Sekolah, PAC LDII Banyusari Tanamkan 29 Karakter Luhur Lewat Asrama Caberawit

Ketum LDII Apresiasi Permata CAI 2026, Tegaskan Pembinaan Generasi Unggul Kunci Indonesia Emas 2045

  • 215 views
Ketum LDII Apresiasi Permata CAI 2026, Tegaskan Pembinaan Generasi Unggul Kunci Indonesia Emas 2045

Lembaga Dakwah Islam Indonesia Jatim Bangun Regenerasi Berjenjang, Siapkan Generasi Unggul Sejak Usia Dini

  • 135 views
Lembaga Dakwah Islam Indonesia Jatim Bangun Regenerasi Berjenjang, Siapkan Generasi Unggul Sejak Usia Dini

Bangun Kekompakan Usai Musda, LDII Kabupaten Bandung Gelar Tasyakur di Ciparay

  • 250 views
Bangun Kekompakan Usai Musda, LDII Kabupaten Bandung Gelar Tasyakur di Ciparay

Generus LDII Margaasih Raih Juara Umum FORSTRI 2026, Bukti Pembinaan Karakter Sejak Dini

  • 250 views
Generus LDII Margaasih Raih Juara Umum FORSTRI 2026, Bukti Pembinaan Karakter Sejak Dini