ldiikabbandung.or.id — Penguatan mutu pendidikan, literasi digital, dan kemandirian ekonomi menjadi perhatian DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dalam menyiapkan santri menghadapi tantangan zaman.
Pendidikan pesantren dinilai perlu memadukan pendalaman ilmu agama, pembentukan karakter, dan keterampilan praktis agar lulusannya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan dunia kerja.
Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya mengatakan, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang religius, berakhlak, terampil, dan mandiri.
Karena itu, pengembangan pendidikan pesantren perlu mencakup pemerataan mutu, peningkatan akreditasi, serta penguatan kecakapan hidup santri.
“Pendidikan pesantren perlu membentuk santri yang kuat dalam ilmu agama sekaligus memiliki keterampilan untuk menjalani kehidupan bermasyarakat,” ujar Dody.
Padukan Pendidikan Agama dan Keterampilan
Untuk meningkatkan kualitas lulusan, LDII menerapkan pendekatan beyond double track yang memadukan pendidikan formal dengan pembinaan pesantren.
Pada jenjang setara SMP dan SMA, sejumlah lembaga menggabungkan pendidikan sekolah umum dengan sistem berasrama.
LDII juga mengembangkan Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) sebagai wadah bagi mahasiswa untuk memperdalam ilmu agama di sela-sela kegiatan perkuliahan.
Pembinaan santri turut diarahkan pada penguasaan keterampilan praktis, antara lain pertanian, peternakan terpadu, menjahit, dan pengolahan produk pangan.
Bekal tersebut diharapkan membantu santri mengembangkan potensi diri sekaligus membuka peluang usaha setelah menyelesaikan pendidikan.
Di sisi kelembagaan, LDII mendorong koordinasi kurikulum, digitalisasi manajemen, pelatihan tenaga pendidik, serta pendampingan pemenuhan instrumen akreditasi.
Organisasi tersebut juga merintis kerja sama pendidikan dengan lembaga luar negeri, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Perkuat Literasi Digital Santri
Selain pendidikan dan keterampilan vokasional, literasi digital menjadi bagian dari pembinaan generasi muda di lingkungan LDII. Program yang dikembangkan mencakup edukasi bermedia sosial secara bijak, internet sehat, pelatihan jurnalistik, dan pembuatan konten kreatif.
Upaya tersebut ditujukan untuk membekali generasi muda agar mampu menyaring informasi, mengenali hoaks, menghindari konten negatif, serta menggunakan perangkat digital secara bertanggung jawab.
“Generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan konten yang mendidik,” kata Dody.
Penguatan kemampuan bahasa asing dan teknologi informasi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing lulusan. Dengan kecakapan tersebut, santri diharapkan dapat memanfaatkan teknologi secara produktif dan menyesuaikan diri dengan perubahan di masyarakat maupun dunia kerja.
Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren
Penguatan pendidikan juga diiringi upaya membangun kemandirian ekonomi melalui Usaha Bersama (UB), usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Baitul Maal wa Tamwil (BMT), serta kerja sama dengan perbankan syariah.
Pengembangan usaha di lingkungan pesantren diharapkan membuka peluang ekonomi, termasuk bagi masyarakat sekitar.
LDII juga mendorong digitalisasi transaksi di koperasi dan toko lingkungan pendidikan, antara lain melalui pembayaran nontunai yang dapat membantu orang tua memantau pengeluaran anak selama tinggal di asrama.
Berbagai upaya tersebut sejalan dengan tema Hari Santri 2026, yakni “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
Kementerian Agama menempatkan penguatan sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemandirian ekonomi sebagai bagian dari kontribusi santri terhadap pembangunan bangsa.
Melalui penguatan pendidikan, literasi digital, dan pemberdayaan ekonomi, LDII berharap pesantren dapat terus berperan dalam membentuk generasi profesional religius yang mandiri dan berdaya saing.
Santri tidak hanya diharapkan memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.***








