Rancaekek — PAC Rancakek Kencana menggelar kegiatan pengajian serta materi pendidikan karakter berupa pemaparan komunikasi efektif untuk pengembangan generasi muda Minggu, 22 Februari 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Majelis Taklim Al Awwabin ini bertujuan membekali generasi muda dengan pola komunikasi yang adaptif agar pembinaan karakter dapat berjalan lebih optimal.
Acara tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya peran generasi muda dalam menentukan masa depan bangsa.
Penasehat PAC Rancaekek Kencana, Eka menilai, keberhasilan transfer nilai sangat bergantung pada cara penyampaian, bukan sekadar isi nasihat. Alih-alih diterima, pesan yang baik kerap tidak membekas karena pendekatan komunikasi kurang tepat.
Dalam pemaparannya, Bapak Eka menjelaskan bahwa keberhasilan pendidikan generasi muda dipengaruhi oleh beberapa elemen, yakni pengurus organisasi, pendidik, orang tua, serta lingkungan pergaulan atau teman sebaya.
Menurutnya, generasi saat ini memiliki pola pikir yang berbeda dibanding generasi sebelumnya, seperti Generasi Z, milenial, maupun baby boomer.
Perbedaan situasi dan kondisi membentuk karakter serta cara pandang yang tidak bisa disamakan.
“Agar generasi muda bisa diarahkan ke arah yang lebih baik dan terjaga dari perilaku yang tidak sesuai norma agama, diperlukan pendekatan yang lebih dialogis,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya memberi pemahaman mengenai tujuan dan manfaat dari setiap nasihat, membuka ruang diskusi, menjadi teladan dalam kebaikan, serta tidak membandingkan anak dengan orang lain ataupun masa lalu orang tua.
Salah satu peserta, Abdurrahman Hasan Yudistira, menilai materi tersebut sangat relevan dengan kehidupan pribadinya.
Ia mengungkapkan bahwa nasihat orang tua sering kali bertujuan baik, seperti agar anak menjadi saleh, rajin, dan mampu membahagiakan orang tua. Namun, penyampaiannya terkadang disertai perbandingan dengan kondisi keluarga di masa lalu.
“Biasanya ada cerita tentang bagaimana keluarga dulu, lalu muncul kalimat ‘kamu harus begini, harus begitu’, sementara saya juga punya mimpi yang ingin saya capai,” tuturnya.
Hasan juga menyoroti adanya ketidaksesuaian antara nasihat dan tindakan. Hal itu, menurutnya, dapat menimbulkan rasa terkekang.
“Kadang muncul perasaan, kalau orang tua saja melakukan hal itu, mengapa saya tidak boleh? Rasanya seperti dibatasi,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui ada anggota keluarga yang menggunakan pendekatan berbeda. Sosok tersebut lebih memilih berdialog santai tanpa komentar tajam.
“Karena pendekatannya nyaman, kadang saya yang mendekat untuk mengobrol. Kadang beliau yang lebih dulu mengajak bicara,” ujarnya.
Menurut Hasan, komunikasi yang baik tidak selalu harus membahas topik berat. Berbagai hal dapat dibicarakan secara ringan, dan ketika ia ingin mendalami suatu persoalan, barulah diberikan pandangan serta nasihat secara bertahap.
Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai 29 karakter luhur dapat tertanam kuat dalam diri generasi muda. Bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.***








