ldiikabbandung.or.id – Ratusan orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Barat mengikuti webinar bertema Dukungan Keluarga dan Lingkungan untuk Anak Berkebutuhan Khusus, “Orangtua hebat untuk Anak istimewa” yang diselenggarakan Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPW LDII Provinsi Jawa Barat di Graha Aulia Jatinangor (GAJ), Kabupaten Sumedang, Minggu (19/7/2026).
Kegiatan yang diikuti peserta secara luring dan daring tersebut bertujuan membekali orang tua dengan pengetahuan serta keterampilan dalam mendampingi tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus.
Salah satu narasumber, psikolog Susi Susanti, menjelaskan bahwa proses menerima diagnosis anak berkebutuhan khusus bukanlah hal yang mudah bagi setiap orang tua.
Tidak sedikit keluarga yang mengalami penolakan, saling menyalahkan, hingga diliputi kecemasan terhadap masa depan anak.
“Ketika orang tua mendapatkan diagnosis anak berkebutuhan khusus, biasanya muncul beban psikologis berupa stres, kecemasan, bahkan kelelahan fisik dan mental. Hal itu merupakan proses yang wajar,” ujarnya.
Menurut Susi, yang terpenting bukan terus mempertanyakan penyebab kondisi anak, melainkan segera menerima kenyataan dan memberikan penanganan yang sesuai agar potensi anak dapat berkembang secara optimal.
“Semakin cepat orang tua menerima kondisi anak, semakin cepat pula penanganan yang tepat dapat diberikan,” katanya.
Ia menjelaskan, berdasarkan definisi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang mengalami hambatan atau memiliki potensi kecerdasan maupun bakat istimewa sehingga memerlukan layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhannya.
Kolaborasi Ayah dan Ibu Sangat Penting
Susi menekankan bahwa pendampingan anak berkebutuhan khusus tidak boleh hanya dibebankan kepada ibu. Menurutnya, keterlibatan ayah memiliki peran penting dalam membangun rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi, dan perkembangan emosional anak.
“Kolaborasi ayah dan ibu sangat penting. Jangan sampai seluruh tanggung jawab pengasuhan hanya dipikul oleh salah satu orang tua,” ujarnya.
Ia merekomendasikan pola asuh demokratis, yakni memberikan aturan yang jelas namun tetap disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak.
Selain itu, orang tua juga perlu membangun rutinitas yang konsisten, memberikan instruksi secara sederhana, serta membiasakan anak menyelesaikan berbagai aktivitas secara mandiri sesuai kapasitasnya.
Fokus pada Potensi, Bukan Keterbatasan
Dalam pemaparannya, Susi mengingatkan agar orang tua tidak terlalu cepat mengambil alih pekerjaan anak hanya karena merasa kasihan.
“Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba sendiri. Sekecil apa pun kemajuannya, berikan apresiasi agar rasa percaya dirinya terus tumbuh,” tuturnya.
Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang dapat dikembangkan apabila memperoleh pendampingan yang tepat serta dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Orang Tua Juga Perlu Menjaga Kesehatan Mental
Selain mendampingi anak, Susi mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental orang tua. Ia mendorong keluarga untuk tidak ragu berkonsultasi dengan psikolog, bergabung dalam komunitas orang tua anak berkebutuhan khusus, serta meluangkan waktu melakukan self-care agar tetap mampu mendampingi anak secara optimal.
“Kalau orang tua sehat secara fisik dan mental, proses pendampingan kepada anak juga akan berjalan lebih baik,” pungkasnya.

Dari DPD LDII Kabupaten Bandung, kegiatan tersebut diikuti Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Bandung H. Odang, S.Pd., Wakil Ketua Asep Sholeh Suhana, S.Ap., serta perwakilan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK), Rieneke Fahala, S.Pd.
Rieneke mengatakan, kehadiran PPKK DPD LDII Kabupaten Bandung dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen untuk memperluas wawasan sekaligus memperkuat pendampingan kepada keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus.
“Alhamdulillah kami dari PPKK mendapat kesempatan hadir di Graha Aulia Jatinangor untuk mendampingi para orang tua yang memiliki anak istimewa. Banyak ilmu dan pengalaman yang kami peroleh, terutama mengenai pentingnya menerima kondisi anak, menggali potensinya, serta membangun kolaborasi keluarga agar tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara optimal,” ujarnya.
Ia berharap materi yang disampaikan para narasumber dapat menjadi bekal bagi PPKK DPD LDII Kabupaten Bandung dalam menyusun program pembinaan keluarga yang lebih inklusif, sehingga semakin banyak orang tua yang mampu mendampingi anak berkebutuhan khusus dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan optimisme.

Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, berprestasi, dan berkontribusi bagi masyarakat.***








