Tim Rukyatul Hilal DPD LDII Kabupaten Bandung melakukan pengamatan hilal untuk menentukan awal bulan Rabiul Awal 1448 Hijriah di Ngamprah, Cimareme Indah, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (13/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, tim memanfaatkan teknologi smart telescope Seestar S30 untuk mendukung proses pengamatan.
Meski demikian, hilal Rabiul Awal belum berhasil terlihat dari titik pengamatan karena pandangan ke arah ufuk tertutup awan menjelang Matahari terbenam.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut arahan DPP LDII kepada Tim Rukyatul Hilal di tingkat DPW, DPD kabupaten/kota, dan pondok pesantren.
Selain melakukan pengamatan hilal, kegiatan ini menjadi sarana mengasah life skill, khususnya keterampilan teknis dalam mengoperasikan perangkat pengamatan.
Ketua Bagian Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPD LDII Kabupaten Bandung sekaligus Ketua Tim Rukyatul Hilal, Muhammad Yusuf, S.Pd., mengatakan pengamatan dilakukan bersama Ruan Nurdin, S.Pd., Wahyu Surya Gumelar, S.Pd., dan H. Abdulloh Faqih.
Kegiatan berlangsung di lokasi yang menjadi tempat tuan rumah sekaligus bagian dari Tim Rukyatul Hilal DPD LDII Kabupaten Bandung Barat, Eka Karyana.

Belajar Mengoperasikan Seestar S30
Sebelum melakukan pengamatan hilal, Eka Karyana memberikan penjelasan teknis mengenai penggunaan smart telescope Seestar S30.
Perangkat tersebut digunakan untuk membantu proses pointing, pengaturan arah, dan pemfokusan sebelum teleskop diarahkan ke posisi Bulan. Tahapan awal dilakukan dengan mengarahkan perangkat ke Matahari.
Menurut Eka, proses pointing ke Matahari penting untuk mendapatkan fokus yang tepat sebelum perangkat digunakan dalam pengamatan hilal.
Kondisi Matahari yang masih cukup terang juga membantu proses pengaturan perangkat. Tim dapat memanfaatkan tampilan Matahari, termasuk bintik Matahari atau sunspot, sebagai salah satu penanda untuk memastikan fokus.
Pengaturan arah perangkat juga dibantu kompas melalui telepon seluler. Setelah posisi dan fokus diperoleh, perangkat selanjutnya dapat diarahkan ke posisi Bulan yang akan diamati.
“Jadi sebelum diarahkan ke posisi Bulan, kita harus pointing Matahari dan fokuskan ke Matahari. Nanti ketika mengarah ke hilal, posisinya sudah fokus,” ujar Eka.
Eka menjelaskan, pemilihan lokasi juga menjadi pertimbangan dalam pengamatan hilal. Idealnya, rukyatul hilal dilakukan di tempat yang memiliki pandangan terbuka ke arah ufuk, seperti kawasan pantai.
Namun, karena titik pengamatan berada di wilayah daratan, tim memilih lokasi yang lebih tinggi untuk meminimalkan kemungkinan terhalangnya pandangan.
Hilal Tertutup Awan
Ketua Tim Rukyatul Hilal DPD LDII Kabupaten Bandung, Muhammad Yusuf, mengatakan kondisi cuaca pada sore hari awalnya cukup cerah. Namun, kondisi berubah ketika mendekati waktu Matahari terbenam.
“Menjelang pukul terbenamnya Matahari, setengah enam ke atas, Matahari tertutup awan mendung dan berawan,” ujar Muhammad Yusuf dalam laporan akhirnya.
Menurut dia, awan yang muncul terdiri atas beberapa lapisan, mulai dari awan rendah, awan tengah hingga awan atas. Awan rendah menjadi kendala utama karena menutupi pandangan teleskop ke arah ufuk.
“Dari kategori awan rendah, ada awan tengah dan awan atas. Tapi awan rendah ini cukup menutup pemandangan teleskop atau teropong sehingga tidak nampak hilal untuk bulan tanggal 1 Rabiul Awal,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, Tim Rukyatul Hilal DPD LDII Kabupaten Bandung tidak berhasil melihat hilal Rabiul Awal 1448 H dari titik pengamatan di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Sebelumnya, Muhammad Yusuf menjelaskan, pengamatan mengacu pada kriteria MABIMS yang menetapkan tinggi hilal minimal tiga derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Berdasarkan data yang digunakan tim, posisi hilal pada saat pengamatan diperkirakan memiliki ketinggian sekitar tujuh derajat dengan elongasi sembilan derajat.
Rukyatul Hilal Sekaligus Mengasah Life Skill

Meski hilal tidak terlihat, kegiatan tersebut memberikan pengalaman teknis bagi anggota Tim Rukyatul Hilal DPD LDII Kabupaten Bandung.
Anggota Tim Rukyatul Hilal, Wahyu Surya Gumelar, S.Pd., mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut. Ia mendapatkan pengetahuan baru mengenai aspek teknis pengamatan hilal, terutama dalam penggunaan perangkat teleskop.
Menurut Wahyu, penjelasan dan praktik langsung bersama Eka Karyana menjadi pengalaman berharga bagi anggota tim.
Kegiatan tersebut sekaligus sejalan dengan tujuan DPP LDII dalam mengasah life skill generasi dan warga LDII. Dalam konteks rukyatul hilal, keterampilan tersebut diwujudkan melalui kemampuan mengelola dan mengoperasikan perangkat teropong untuk mendukung pengamatan hilal.
Dengan demikian, kegiatan rukyatul hilal tidak hanya menjadi momentum pengamatan awal bulan Hijriah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan teknis anggota tim dalam memanfaatkan teknologi.***








