ldiikabbandung.or.id — Puasa Arafah yang dilaksanakan setiap tanggal 9 Zulhijah merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, khususnya bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Pada tahun 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, puasa Arafah diperkirakan jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026.
Momentum ini menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk meraih ampunan Allah SWT.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Qatadah, Rasulullah SAW bersabda: “Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sedangkan puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar, yakni menjadi sebab dihapuskannya dosa selama dua tahun.
Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk tidak melewatkan amalan ini selama dalam kondisi sehat dan mampu.
Secara hukum, puasa Arafah termasuk sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji.
Namun, ketentuan ini berbeda bagi jamaah haji yang sedang melaksanakan wukuf di Padang Arafah.
Bagi jamaah haji, puasa Arafah tidak disyariatkan, bahkan dilarang. Hal ini bertujuan agar kondisi fisik tetap prima sehingga dapat menjalankan rangkaian ibadah haji, khususnya wukuf, secara optimal.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Fadhl binti Al Harits disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak berpuasa saat wukuf di Arafah. Saat itu, beliau menerima minuman susu ketika berada di atas untanya dan meminumnya di hadapan para sahabat. (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).
Riwayat serupa juga disampaikan oleh Maimunah radhiyallahu ‘anha, yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW meminum susu saat wukuf di Arafah dan disaksikan oleh para sahabat. (HR. Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124).
Selain itu, dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang puasa Arafah bagi jamaah yang berada di Arafah. Larangan ini ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Dengan memahami dalil-dalil tersebut, dapat disimpulkan bahwa puasa Arafah sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak berhaji, namun tidak berlaku bagi mereka yang sedang melaksanakan wukuf di Arafah.
Mengingat besarnya pahala yang dijanjikan, umat Islam yang sehat dan tidak memiliki halangan dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah sebagai bentuk ikhtiar spiritual dalam memperbaiki diri serta meraih ampunan Allah SWT menjelang Hari Raya Iduladha.
Ajakan untuk menghidupkan amalan ini juga kembali disampaikan kepada masyarakat.
Bagi yang sehat, kuat, dan tidak memiliki halangan, dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026.
“Berpuasa pada hari Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa setahun sebelum dan setahun sesudahnya,” demikian sabda Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan dalam hadis.
Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kekuatan, dan keikhlasan kepada umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa Arafah.***
Oleh: KH Edy Suparto – Dewan Penasihat Pusat DPP LDII (2025), tambahan referensi dari ustaz Irfan Efendi.








