Jakarta, 9 April 2026 — H. Dody Taufiq Wijaya resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) periode 2026–2031 melalui palu sidang Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang berlangsung di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, 7–9 April 2026.
Dengan amanah ini, Dody mewarisi tongkat estafet dari KH. Chriswanto Santoso untuk memimpin salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia memasuki babak baru.
Siapa sesungguhnya H. Dody Taufiq Wijaya? Drs. H. Didin Suyadi, Ketua DPD LDII Kabupaten Bandung yang hadir dan mengikuti seluruh rangkaian Munas X sejak hari pertama, memberikan gambaran utuh sosok Ketua Umum baru itu dari perspektif pengamatan langsung selama bertahun-tahun.
H. Dody Taufiq Wijaya saat RDPU di Gedung Nusantara DPR RI, menyerahkan usulan perbaikan RUU Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah kepada Ketua Panja Haji Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko — salah satu rekam jejak yang memperkuat kepercayaan munas kepadanya.
“Munas telah bicara. Dan kami mewakili Kabupaten Bandung merasa keputusan ini adalah yang terbaik untuk LDII ke depan. Pak Dody bukan pilihan tiba-tiba — beliau adalah buah dari proses panjang yang sudah kami saksikan sendiri,” ujar Didin Suyadi usai sesi penutupan Munas X.
Kader organik yang paham denyut lapangan
Dody bukanlah pemimpin yang datang dari jalur pintas. Ia meniti organisasi dari tingkat PAC (Pimpinan Anak Cabang/Desa) dan PC (Pimpinan Cabang/Kecamatan) hingga jenjang pusat — melewati setiap lapisan dengan pengalaman yang nyata, bukan sekadar catatan administratif.
Proses panjang itulah yang membentuknya menjadi pemimpin yang memahami betul kebutuhan warga di akar rumput, jauh sebelum ia duduk di kursi tertinggi organisasi.
“Pemimpin yang lahir dari proses tahu persis di mana akar masalahnya. Pak Dody tidak perlu masa orientasi panjang memimpin DPP, karena beliau sudah lama menghirup langsung udara organisasi dari bawah,” kata Didin.
Rekam jejak yang berbicara sebelum jabatan
Jauh sebelum Munas X, Dody telah menorehkan rekam jejak yang bisa diverifikasi. Keterlibatannya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait RUU Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah di DPR RI mencerminkan kapasitasnya melampaui batas internal organisasi — mampu hadir dalam ruang kebijakan nasional sebagai representasi umat.
Di sisi lain, program ekonomi syariah, penguatan koperasi, dan UMKM berbasis komunitas warga LDII yang ia gagas menjadi bukti konkret kepemimpinan yang tidak berhenti di tataran wacana.
“Yang kami butuhkan adalah pemimpin yang mampu mengeksekusi, bukan sekadar berpidato di forum besar. Pak Dody sudah membuktikan keduanya jauh sebelum terpilih,” tegas Didin.
Pemimpin lintas generasi untuk LDII masa kini
Salah satu karakter yang paling menonjol dari Dody adalah kemampuannya merawat dua hubungan secara bersamaan: tunduk pada arahan pinisepuh dan senior organisasi, sekaligus mampu berbicara dalam bahasa yang dipahami generasi milenial dan Gen Z.
Di tengah realitas LDII yang memiliki rentang usia anggota sangat lebar, kapasitas itu bukan pelengkap — melainkan prasyarat kepemimpinan yang efektif.
“Pak Dody mampu merangkul semua energi dalam satu organisasi, sambil tetap menjaga fatsun yang diwariskan KH. Chriswanto Santoso. Kami menyaksikan itu bukan dari cerita, tapi langsung selama tiga hari Munas ini,” ungkap Didin.
Transformasi modern tanpa melepas akar pesantren
Sebagai organisasi Islam berbasis nilai kepesantrenan, LDII menghadapi tantangan nyata: bagaimana bertransformasi secara digital dan manajerial tanpa kehilangan identitas.
Di tangan Dody, dua hal yang kerap dianggap bertentangan itu justru dikelola sebagai kekuatan yang saling menopang.
Rekam jejaknya dalam mengelola program-program strategis di tingkat pusat menjadi bukti bahwa modernisasi dan nilai luhur organisasi bisa berjalan beriringan.
Amanah baru, harapan besar
Didin Suyadi, yang mewakili DPD LDII Kabupaten Bandung di forum Munas X, menutup pandangannya dengan penegasan atas keyakinan kolektif yang ia bawa dari Bandung ke Jakarta — dan kini pulang dengan kepastian.

“Integritas Pak Dody sudah teruji, loyalitasnya tidak diragukan. Kami yakin beliau akan meneruskan legacy luar biasa KH. Chriswanto Santoso dan membawa LDII semakin nyata berkontribusi bagi bangsa. Selamat kepada Pak Dody — amanah besar telah resmi dipercayakan,” tegasnya.
“Semoga Alloh SWT., senantiasa memberikan jalan, kesehatan, kekuatan, dan kebarokahan dalam mengemban tugas besar organisasi,” pungkas Drs. H. Didin Suyadi kepada redaksi pagi tadi (Jumat, 10 April 2026).***








