BANDUNG – Tim Rukyat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Bandung melaksanakan pengamatan hilal untuk penentuan awal Bulan Safar 1448 Hijriah di Observatorium Al-Biruni Universitas Islam Bandung (Unisba), Rabu (15/7/2026) atau bertepatan dengan 29 Muharam 1448 H.
Pengamatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan rukyatul hilal yang dilakukan serentak oleh tim rukyat LDII di berbagai daerah sebagai tindak lanjut imbauan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII.
Dalam surat edarannya, DPP LDII meminta Tim Rukyat Hilal DPW dan DPD LDII serta pondok pesantren di lingkungan LDII melaksanakan pengamatan hilal dan berkoordinasi dengan Tim Rukyat Hilal Kementerian Agama di daerah masing-masing.
Ketua Tim Rukyat DPD LDII Kabupaten Bandung, Muhammad Yusuf, S.Pd., mengatakan pengamatan di Kabupaten Bandung dipusatkan di Observatorium Al-Biruni Unisba karena merupakan salah satu titik rukyat resmi yang diakui Kementerian Agama Republik Indonesia untuk pemantauan awal bulan Hijriah.
“Kami melaksanakan rukyatul hilal sebagai tindak lanjut atas imbauan DPP LDII sekaligus berkoordinasi dengan tim rukyat di Observatorium Al-Biruni. Pengamatan ini menjadi bagian dari kontribusi kami dalam mendukung proses pemantauan awal bulan Hijriah,” ujarnya.

Menurut Muhammad Yusuf, berdasarkan data hisab, matahari terbenam sekitar pukul 17.48 WIB. Saat itu posisi hilal diperkirakan berada pada ketinggian sekitar 13,43 derajat, dengan elongasi 14,70 derajat, azimut 292°55’58”, serta umur bulan sekitar 25 jam 5 menit 16 detik.
“Secara perhitungan astronomi, posisi hilal sudah memenuhi parameter pengamatan. Namun hingga pukul 18.08 WIB, saat posisi hilal berada di kisaran 7,5 derajat, ufuk barat masih tertutup awan sehingga hilal belum dapat diamati dengan jelas,” jelasnya.
Ia menuturkan, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan rukyatul hilal. Oleh karena itu, setiap hasil pengamatan, baik hilal terlihat maupun tidak, tetap didokumentasikan sebagai bagian dari data observasi astronomi.
Observatorium Al-Biruni Jadi Titik Rukyat Resmi
Muhammad Yusuf menjelaskan, Observatorium Al-Biruni yang dikelola Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung dipilih karena menjadi salah satu lokasi pengamatan resmi yang diakui Kementerian Agama RI untuk pemantauan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, Syawal, Zulhijah, dan Safar.
Observatorium yang berada di rooftop lantai 10 Gedung Fakultas Kedokteran Unisba dengan ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut memiliki pandangan yang relatif terbuka ke arah ufuk barat, sehingga mendukung proses pengamatan hilal saat matahari terbenam.
Selain didukung lokasi yang strategis, observatorium ini juga dilengkapi teleskop manual dan digital, kamera Charge-Coupled Device (CCD), filter matahari, serta perangkat lunak astronomi untuk mendukung akurasi pengamatan.
“Observatorium Al-Biruni juga menjadi titik kolaborasi Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Jawa Barat, BMKG Bandung, akademisi Unisba, serta berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, termasuk LDII. Hasil pengamatan dari lokasi ini dapat menjadi salah satu bahan pendukung yang dilaporkan kepada Kementerian Agama sebagai pertimbangan dalam Sidang Isbat nasional,” tambahnya.
Selain Muhammad Yusuf, tim rukyat DPD LDII Kabupaten Bandung yang mengikuti pengamatan terdiri atas H. Abdullah Faqih, Ust. Rifa’i Tri Widodo, dan Ust. Ropiq Nurgiant Caesar Fajri, S.I.P.
Meski demikian, penetapan awal Bulan Safar 1448 Hijriah tetap menjadi kewenangan pemerintah melalui Sidang Isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia.***








